Home > Islamic Economics > Penerbit Bulan Bintang, Riwayatmu Kini

Penerbit Bulan Bintang, Riwayatmu Kini

Penerbit Bulan Bintang pernah menyandang nama besar. Kenapa kini mengalami kemunduran?

Oleh Dwi Hardianto

Bangunan di Jl Kramat Kwitang I No 8 Jakarta, dari luar tampak sepi. Pada dinding depan sebelah kanan tercantum logo “Bulan dan Bintang” keemasan. Keprihatinan akan tampak, ketika memasuki ruang tamu yang juga tempat karyawan bekerja. Berteman peralatan kantor sederhana, para karyawan itu tampak dingin, tanpa semangat dan harapan. Ini sangat kontras dengan nama besar yang pernah disandang penerbit buku Islam PT Bulan Bintang ini.

Bagi pecinta buku buku-buku Islam, Penerbit Bulan Bintang sudah tak asing lagi. Penerbit yang didirikan Teungku Haji Amelz (Abdul Manaf El Zamzani) tahun 1951, sejak awal memang memiliki komitmen dakwah dengan menerbitkan buku-buku Islam berkualitas. Karya-karya puluhan tokoh Islam di tanah air telah diterbitkan. Di antaranya, Prof Dr Teungku M Hasbi Ash-Shiddiegy, KH Moenawar Chalil, Prof Dr Hamka, Mohammad Natsir, Mohamad Roem, M Yunan Nasution, Prof A Hasjmy, Prof Dr HM Rasjidi, Prof Dr Harun Nasution, Prof Dr Zakiah Darajat, dan lainnya.

Dalam mengembangkan perusahaan, Haji Amelz menetapkan misi penerbitannya sebagai lembaga tadris (pengajaran), taklim (pendidikan), dan dakwah. Dengan sasaran utama untuk menegakkan amar makruf dan nahi mungkar, membedakan antara yang hak dengan yang batil, antara halal dengan haram, antara yang merusak dengan yang membangun.

Tak heran, pada saat itu, masyarakat sangat antusias setiap kali Bulan Bintang mengeluarkan terbitan barunya. Direktur Produksi, H Abdullah Faqih Siddik mengatakan, disamping karena kualitas tulisannya tingginya sambutan masyarakat karena penerbit buku-buku Islam saat itu masih jarang. “Padahal masyarakat Muslim saat itu sangat merindukan hadirnya buku-buku Islam berkualitas dalam bahasa Indonesia,” ungkapnya.

Saat memasuki masa keemasannya tahun 1977/1978, Lanjut Abdullah, PT Bulan Bintang menerbitkan hingga 120 judul buku per tahun. Berarti, dalam satu bulan rata-rata mengelurkan 10 buku baru. Masa kejayaannya ini bisa dirasakan hingga tahun 1980-an, karena masih bisa menerbitkan 3–5 buku tiap bulan. Belum lagi dengan buku pesanan instansi pemerintah.

Tapi menginjak tahun 1990-an, kejayaan itu kian surut. Menurut Abdullah, sejak tahun 1980-an manajemen Bulan Bintang telah merasakan kemunduran dalam bisnisnya. Apalagi sejak meninggalnya Haji Amelz tahun 1982, perusahaan seperti berjalan tanpa kendali. Meski pimpinan perusahaan langsung dikemudikan putranya, Fauzi Amelz, yang alumnus sebuah Perguruan Tinggi di Amerika Serikat, tapi kondisi perusahaan tetap terjun bebas. “Semakin banyak persoalan intern yang melilit perusahaan,” ungkapnya.

Akhirnya, Amran Zamzani yang saat itu menjabat Wakil Presiden Direktur PT Kramayudha Tiga Berlian terlibat dalam membenahi perusahaan. Tapi tidak juga mengangkat kinerja dan produksi perusahaan. Apalagi setelah badai ekonomi 1997 melanda Indonesia, kondisi perusahaan kian parah. Manajemen melakukan PHK terhadap separoh karyawan dari 30 menjadi 15 orang, dan sepanjang 1997–1999 tidak menerbitkan buku. Padahal pada tahun 1977/1978 karyawannya mencapai 40 orang. Akibatnya “Kami hanya melakukan cetak ulang terhadap satu dua judul buku yang betul-betul dibutuhkan pasar,” ungkap Abdullah blak-blakan.

Ketika ditanya penyebab kemunduran ini, Abdullah tidak bersedia menjelaskannya. Tapi ketika disinggung tentang dibatalkannya kontrak puluhan judul buku karya Prof M Hasbi Ash-Shiddieqy oleh ahli warisnya, yang kemudian diterbitkan oleh penerbit lain? Abdullah mengiyakan. Menurutnya, pendapatan terbesar perusahaan berasal dari sekitar 15 judul buku yang dibatalkan kontraknya. ”Buku karya Prof Hasbi memang laku dipasaran, sehingga rata-rata dicetak ulang hingga 10 edisi. Setiap edisi dicetak 10.000 eksemplar,” terang Abdullah.

Saat ini, bermodalkan sisa-sisa kebesaran masa lalunya, sejak 1999 Penerbit Bulan Bintang mencoba bangkit kembali. Tapi, kemunduran yang amat dalam benar-benar telah membekas. Ini terlihat di gudang yang terletak di bangunan paling belakang. Tumpukan buku berdebu terlihat menggunung memenuhi gudang, berantakan dan tidak teratur. Ini membuat hati trenyuh (prihatin).

Seorang pembeli buku yang kebetulan berada di gudang itu menuturkan pada Sabili. Ia membeli setumpuk buku langka–berisi sekitar 10 buku–karya penulis ternama dengan harga sangat murah, di bawah Rp 5.000 per buku. Padahal, buku yang sama di toko buku lain harganya masih berkisar Rp 20.000– 30.000 per buku.

Di antara buku-buku murah ini, ada yang sudah sulit diperoleh, misalnya: Konsepsi Negara Bermoral Menurut Imam Al Gazali’ karya H Zainal Abidin Ahmad, Humanisme dalam Islam karya Prof Dr Marcel A Boisard, Pedoman Dzikir dan Doa karya Prof Dr TM Hasbi Ash-Shiddieqy, Perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah karya Prof Dr Mukhtar Yahya, Negara Adil Makmur Menurut Ibnu Siena Karya H Zainal Abidin Ahmad, dan lainnya.

Pertanyaannya, kenapa Penerbit Bulan Bintang yang juga aset umat ini dibiarkan terlantar? Tapi, harapan akan selalu ada. Termasuk bagi H Abdullah yang mencoba membangkitkan kembali penerbit buku legendaris ini. Hasilnya pun mulai terlihat, sejak 1999 hingga saat ini (taun 2001) Penerbit Bulan Bintang telah menerbitkan lagi sebanyak 19 judul buku baru.

Artinya, peluang masih terbuka. Siapa mau menyambut?

Publications: Sabili No 25 TH VIII 8 Juni 2001

Dwi Hardianto, S.Sos

Freelance to: Writer, Editor, Campaign Strategic, Public Relations, Publishing, Advertising, Design, Photography, and Event Organizer

Email: dwioke01@yahoo.com, dwi_h22@yahoo.co.id

http://dwihardianto01.wordpress.com/

About these ads
Categories: Islamic Economics Tags:
  1. dildaar80
    18/03/2011 at 12:55

    salam kenal…sy juga seringkali membaca buku terbitan Bulan BIntang…tapi keluaran lama.. tahun 1970-an…

    • 18/05/2011 at 12:55

      Kenal juga … sekarang memang sudah tak terbit lagi

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: