Beranda > Terrorism > Mengejar Bayangan Teroris

Mengejar Bayangan Teroris

Menuju Kampung Ciseureuh di Cianjur Selatan

Menuju Kampung Ciseureuh di Cianjur Selatan

Benarkah Cianjur Selatan menjadi primadona persembunyian para pelaku teror? Wartawan SABILI mencoba menguaknya dengan menyisir sebagian kawasan ini. Yang pasti, di sini terhampar kemiskinan, keterbelakangan, sulit transportasi, dan tak ada sarana komunikasi.

Oleh: Dwi Hardianto

Setelah tubuh terasa agak ringan, di pagi yang cerah, Rabu (27/10), SABILI meninggalkan halam an Kantor Kecamatan Cidaun, di Cianjur Selatan. Di sinilah semalam wartawan SABILI bermalam, beristirahat melepas penat dan pegal-pegal di sekujur tubuh. Sehari sebelumnya, selepas Zuhur, SABILI meninggalkan Bandung menuju Cidaun melalui jalur Soreang, Ciwidey, terus membelah Perkebunan Teh Rancabali di kaki Gunung Patuha dan Gunung Waringin.

Selepas perkebunan teh yang asri dan sejuk itu, perjalanan diteruskan membelah Pegunungan Simpang di perbatasan Bandung-Cianjur. Tanpa terasa, mobil sewaan yang jadi tumpangan sudah memasuki Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur. Jalan yang tadinya mulus, beraspal hotmik, berganti dengan aspal kasar dan jalan batu sepanjang hampir 20 km. Tak ayal, kami pun terguncang-guncang. Dalam kondisi ini harus berpegangan erat dan mengencangkan sabuk pengaman, apalagi mobil harus mendaki gunung dengan kemiringan 60 derajat.

Dua jam lebih kami harus berjuang menahan ngeri, menyaksikan curamnya jurang, terjalnya tebing di sebelah kiri dan kanan jalan. Sementara itu, barisan pegunungan terasa semakin memanjang tiada habisnya. Bahkan, beberapa kali mobil tak sanggup mendaki tanjakan curam dengan kondisi jalan berlubang. Akhirnya, di Desa Cibereum, Kecamatan Naringgul, mobil tak bisa dipaksa lagi. “Ban mobil harus dibersihkan dulu, karena licin dan kepanasan,” kata Saiful, sopir yang mengantar SABILI.

Rupanya beginikah, wilayah yang disukai teroris, terpencil, sulit transportasi, dan tak ada akses komunikasi? Lantas, apa bedanya teroris dengan bajing loncat yang ditakuti pengemudi truk, pada masa lalu, sepanjang Alas (hutan) Roban di Jalur Pantura sebelum Semarang? Apa juga bedanya teroris dengan garong (perompak) yang biasa menggasak bus-bus malam di jalur lintas Sumatera? Entahlah.

Alhamdulilah, setelah penat dan tegang menempuh perjalanan sekitar 5 jam, akhirnya kami pun memasuki Kantor Kecamatan Cidaun. Namun, hari sudah Maghrib, akhirnya kami pun berbuka, istirahat, dan menginap di Cidaun. Entah karena kelelahan atau dinginnya hembusan angin pantai selatan, usai shalat Isya kami tertidur pulas. Untung tak kebablasan. Kalau kebablasan, sahur bisa lewat!

Sehari sebelumnya, Selasa (26/10), usai pertemuan dengan ormas Islam di Kodam III Siliwangi Jl Aceh Bandung, pada SABILI, Pangdam Mayjen TNI Iwan Ridwan Sulanjana mengatakan, pihaknya menerima informasi tentang masuknya dana dari Amerika Serikat (AS) sebesar 1 juta US Dolar (sekitar Rp 9 miliar) ke Cianjur Selatan.

Ketika SABILI mendesak, Pangdam menyebut, Kecamatan Cidaun dan Sukanagara sebagai daerah tujuan transfer dana dari AS itu. “Pertanyaan besar saya, kenapa AS mengirim dana Rp 9 miliar ke desa terpencil? Siapa yang mengirim? Ditujukan pada siapa? Dan, apa tujuannya? Itu sangat penting bagi kami,” tegas Pangdam.

Berbekal informasi itu, SABILI menyusuri wilayah yang disebut Pangdam. Apalagi dalam kasus sebelumnya, Hambali alias Riduan Isamudin alias Encep Nurjaman yang dituduh AS sebagai gembong teroris, juga lahir di Desa Sukamanah, Kecamatan Karangtengah, Cianjur. Lelaki yang saat ini “disimpan” AS, dianggap sebagai orang yang bertanggungjawab atas rangkaian pengeboman di tanah air sejak tahun 2000 hingga bom di Hotel JW Marriot.

Ibunda Encep, Erni Maryani, ketika disodorkan foto-toto anaknya yang dipublikasikan AS, mengaku tak mengenalinya. “Wajahnya kok berewokan dan gemuk,” kata perempuan berusia 64 tahun ini. Adik kandung Encep, Kankan (24 tahun), juga meragukan kebenaran foto yang dilansir media. “Jika yang dimaksud pria berewokan dan gemuk itu, saya tak yakin, itu kakak saya,” katanya.

Bahkan, tokoh masyarakat Cianjur, H Chep Hernawan mengatakan, masuknya dana AS sebanyak 1 juta US Dolar ke Cianjur Selatan, menunjukkan titik terang adanya konspirasi besar terhadap kasus terorisme yang dicap melibatkan warga Cianjur. “Bisa saja, dana itu ditujukan pada agen-agen AS di Cianjur untuk kepentingan mereka. Jadi, harus diungkap tuntas,” tegasnya.

Akhirnya, pagi itu, Rabu (27/10), SABILI mengobservasi Kecamatan Cidaun yang berbatasan dengan pantai selatan Samudra Hindia ini. Di kecamatan yang membawahi 13 desa, ada dua bank , yakni BRI Unit Cidaun dan BPR Cidaun. Tapi, Kepala BRI Cidaun, Dadan Ramdan menegaskan, bank yang dipimpinnya sejak sebelas bulan terakhir, tidak pernah menerima transfer dana sebesar 1 juta US Dolar , dari mana pun.

Selanjutnya, Dadan menerangkan, setiap transfer sebesar Rp 100 juta ke atas, kepala unit dan cabang harus melapor pada atasannya di wilayah dan pusat. Selain itu, kata Dadan, BRI Cidaun belum online dan tak punya money changer (penukaran mata uang), sehingga tidak mungkin menerima transfer dana sebesar itu. “Yang melakukan transfer, ya, warga Cidaun untuk mengirim uang sekolah anaknya di Bandung dan kota-kota lain,” terangnya.

Keterangan serupa diperoleh SABILI ketika menghubungi Direktur BPR Cidaun, Meiyet Rusmawan Gumelar. Menurutnya, tak mungkin BPR Cidaun menerima transfer dana sebesar itu. Karena, sesuai aturan Bank Indonesia, BPR tidak diizinkan mengirim dan menerima transfer dari manapun.

Bahkan, kedua pentolan Bank di Cidaun, secara terpisah mengatakan, TKI dan TKW saja, tidak pernah mentransfer uangnya melalui BRI maupun BPR. “TKI-TKW mengirim uang pada keluarganya melalui BNI Cabang Cianjur dan Bank Jabar Cabang Sukabumi. Jumlahnya pun tidak sampai Rp 100 juta,” tandasnya.

Memang, sumber-sumber SABILI juga menginformasikan, dana sebesar itu, minimal dikirim melalui bank di cabang (kabupaten). Bahkan, bisa juga via bank di provinsi atau pusat. Sementara itu, bank-bank nasional yang beroperasi di Kota Cianjur antara lain: BNI, BRI, Bank Jabar, Bank Mandiri, Bank Danamon, BCA, Bank LIPPO, Bank NISP, dan beberapa bank syariah, seperti Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, Danamon Syariah dan Bank Muamalat.

Selanjutnya, sumber itu mengatakan, beberapa waktu lalu, ada statemen resmi dari sebuah bank nasional cabang Cianjur, bahwa pihaknya sudah melacak aliran dana dari AS. Tapi, keberadaannya, siapa yang mengirim, dan siapa yang dituju, tidak bisa diketahui. “Entahlah, apa sebabnya,” ujar sumber itu.

Selanjutnya, siang itu juga, SABILI menemui Hambali, guru ngaji di Madrasah Miftahul Hidayah, Kampung Ciseureuh, Desa Cimaragang, Kecamatan Cidaun. Ustadz yang sehari-hari berprofesi menjadi petani ini adalah korban salah tangkap aparat gabungan Polres Cianjur dan Polda Jabar. Penangkapan terjadi pada Jum’at pagi (22/10). Hambali dituduh menyembunyikan lima orang teroris, dua di antaranya adalah Dr Azahari dan Nur Din M Top.

Kampung Ciseureuh
Mobil Kijang warna biru tua yang disewa SABILI, menembus jalan kecil, beraspal kasar, berkelak-kelok, membelah bukit-bukit tandus dan kering di sepanjang pantai selatan Cianjur. Sasaran yang dituju hanya satu, sebelum Zuhur harus sudah memasuki Kampung Ciseureuh. Sebelumnya, kami harus melewati beberapa desa, antara lain, Kertajadi, Cidamar, Bojong Larang, dan Karang Wangi.

Pantai yang panas dan perbukitan tandus menghampar di hadapan kami. Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih, akhirnya kami memasuki Desa Cimaragang. Tapi, untuk memasuki Kampung Ciseureuh, kami harus menyewa ojek, karena jalan yang ada hanya jalan setapak, sebagiannya berbatu-batu dan sebagia lainya jalan tanah yang licin, berkelak-kelok naik turun bukit.

Perut terasa dikocok selama naik ojek yang hampir satu jam itu. Bahkan, sekitar 2 km sebelum masuk kampung, kami harus berjalan kaki, karena jalan licin dan curam. Sesampainya di ujung jalan, yang berbatasan dengan sebuah gapura, terlihat beberapa atap genteng menyembul dari balik dedaunan.

Lokasinya, persis disebelah Sungai Cilaki, batas alam Kabupaten Cianjur dengan Garut. Di sinilah, terhampar kampung kecil nan indah dan damai, dikelilingi persawahan menghijau. Tapi, kampung dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 45 orang ini, kini harus menanggung beban atas peristiwa salah tangkap yang menimpa Ustadz Hambali itu.

Menurut Hambali (32 th), yang paling menyedihkan, saat dirinya dan pengantarnya, Bubun (37 th), digelandang naik mobil polisi. “Saya benar-benar malu, orang-orang di sepanjang jalan yang dilalui melihat saya. Hati kecil saya menjerit, kenapa saya ditangkap?” terangnya berkaca-kaca. Selain itu, setelah tuduhan polisi tidak terbukti, mereka dilepas begitu saja di Desa Pagelaran dengan diberi ongkos Rp 40 ribu.

Sementara itu, Kapolsek Cidaun Iptu Suwigno ketika diminta konfirmasinya membantah telah terjadi penangkapan. Polisi hanya meminta keterangan kepada salah seorang warga. “Tidak ada penangkapan terhadap warga. Polisi hanya meminta keterangan saja. Setelah itu, dia kita lepaskan lagi,” katanya.

Jawaban senada juga diterima SABILI ketika mengonfirmasikan hal ini pada Direktur VI Antiteror Mabes Polri, Brigjen Pranowo Dahlan. Bahkan, berkali-kali pihaknya menyatakan tidak tahu dan tidak paham mengenai kasus ini. “Saya tidak tahu, tanyakan saja pada yang lain,” kilahnya.

Kini, Hambali, Pesantren, Madrasah Miftahul Hidayah, dan warga kampung hanya bisa pasrah meratapi nasibnya. cap buruk mulai dialamatkan pada mereka.

Mereka pun tak memiliki kekuatan mengklarifikasi peristiwa yang sebenarnya. Repotnya, Kepolisian, MUI dan Pemda Cianjur tidak melakukan upaya apapun untuk membersihkan warganya dari stigmatisasi itu.

Akibatnya, Hambali yang biasanya riang, setelah kejadian itu, menjadi pendiam, penuh curiga dan stres. Bahkan, sejak seminggu ini, ia mengaku tidak pernah ke luar rumah. Perubahan serupa juga terjadi pada warga kampung. Setiap ada orang asing melintas di kampungnya, kecurigaan terpancar dari sorot mata mereka yang tajam tak berkedip.

Ketika SABILI baru saja memasuki gerbang kampung, beberapa anak muda menguntit dari belakang. Untung kami cepat tanggap. Sebelum terjadi sesuatu yang fatal, kami berinisiatif menjelaskan maksud kedatangan kami. Akhirnya, dengan senyum renyah, beberapa pemuda itu justru mengantar menemui Hambali, Ketua RT,  dan Pimpinan Pesantren. Akhirnya sebagian besar warga kampung berkumpul di rumah Hambali menceritakan pengalaman mereka satu-persatu saat polisi mengepung kampungnya.

Kepada SABILI, Ketua RT 04/01 Kampung Ciseureuh, Abidin, menuturkan, tuntutan warganya saat ini hanya satu, yakni polisi dan pemda harus segera menyatakan kepada masyarakat luas bahwa Kampung Ciseureuh bersih dari teroris, warga Ciseureuh bukan teroris dan para teroris pun tidak pernah bersembunyi di kampung ini. “Kami tak akan meminta apapun, selain kembalinya nama baik kami,” tandasnya.

Tanpa terasa, perbincangan dan silaturahim SABILI dengan warga Ciseureuh berlangsung hampir 3 jam. Jam sudah menunjuk angka 02.00 WIB siang hari. Dengan berat hati akhirnya kami pun mohon diri, karena harus segera meninggalkan kampung menuju Bandung. Kami tak ingin kemalaman di tengah jalan. Kesan teramat dalam begitu terasa. Meski baru sekali bertemu, ikatan persaudaran terasa sangat dalam menghunjam ke dalam qalbu.

Apalagi, ketika Kepala Madrasah dan Pesantren Miftahul Hidayah, Syarifuddin, dengan tutur katanya yang santun memohon maaf dan pengertian SABILI, ketika memasuki kampung ada “pengawal” yang menguntitnya. Sebetulnya, selama ini warga Ciseureuh tidak pernah curiga kepada pendatang. “Selama ini kami cukup terbuka, silakan orang dari mana pun datang ke sini, asal berniat baik pasti akan kami terima dengan baik pula. Tapi sejak kejadian penangkapan itu, kami menjadi waspada. Itu saja, jadi mohon pengertiannya,” jelasnya.

Sebelum meninggalkan kampung terpencil ini, SABILI menyempatkan shalat Zuhur di Masjid Miftahul Hidayah yang letaknya bersebelahan dengan Madrasah sekaligus Pesantren Miftahul Hidayah. Sebenarnya, bangunan pondok telah rubuh tahun 1997, karena tiang kayu penyangga bangunan dan papan-papannya lapuk di makan usia. Kini, para santri harus bergantian dengan murid-murid madrasah tiap kali belajar. Dengan langkah gontai, kami pun meninggalkan kampung saudara seiman yang teraniaya.

Tapi, bayangan perjalanan berat menuju Bandung, sontak menumbuhkan semangat baru. “Kita harus sampai perbatasan Bandung–Cianjur sebelum Maghrib, karena medan berat sepanjang 20 km di Kecamatan Naringgul akan semakin berat jika dilalui pada malam hari.”

Alhamdulilah, perjalanan pulang terasa lebih cepat dari berangkatnya. Pas Adzan Maghrib, mobil sudah memasuki perkebunan teh Rancabali. Tapi, jalanan berkabut dengan jarak pandang hanya sekitar 3-5 meter, membuat mobil hanya bisa merayap, pelan. Akhirnya, sekitar jam 22.00 Wib, SABILI sampai di kota Bandung.

Laporan: Deffy Ruspiyandi

Kategori:Terrorism Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: