Beranda > Islamic Movement > Lautan Ilmu di Tambakberas

Lautan Ilmu di Tambakberas

Meski sudah menerapkan sistem pendidikan modern tapi metoda soroban dan weton tetap dipertahankan dalam mempelajari kitab-kitab klasik. Obsesinya, menjadikan pondok sebagai lautan ilmu sepanjang masa.

Oleh Dwi Hardianto

Gerimis yang membasahi Kota Jombang, Jawa Timur, sejak semalam baru saja reda. Sebagian badan jalan berlubang tergenang air. Begitu juga saat Sabili menginjakan kakinya di pintu gerbang Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas, 5 Km utara Kota Jombang.

Suasana lengang. Jarum jam menunjuk angka 10.30 Wib. Yang tampak hanya aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar pondok berupa warung makan, foto kopi, wartel, warnet, toko alat tulis, toko busana muslim, dan lainnya. Rupanya, para santri sedang menekuni pelajarannya di kelas masing-masing.

Pesantren yang dikenal sebagai ‘kakek’-nya Ponpes Tebu Ireng sekaligus tempat Gus Dur ‘ngaji’ di kala mudanya, dikelola secara kolektif oleh Dewan Pengasuh. Terdiri dari KHM Sholeh Abdul Hamid (ketua), DR KH M Hasib Wahab Chasbullah (Sekum), KH Nasrulloh AR (anggota), dan KH Abdul Nasir Fattah (anggota). Mereka adalah generasi keenam dari pendiri pondok.

Mendung putih masih menggelayut di atas pondok. Bunyi bedug disusul azan Zuhur menggema di komplek pondok, para santri keluar dari kelas masing-masing menuju masjid tua di tengah pondok. Setelah wudhu, para santri menunaikan shalat sunat. Sambil menunggu imam, para santri mengalunkan shalawat dan memuji asma Allah khas pesantren NU.

Usai shalat, para santri istirahat dan makan siang. Uniknya, di ujung timur komplek pondok terdapat warung makan yang dikelola warga sekitar. Penjualnya adalah mbok-mbok (ibu-ibu separuh baya) yang mengenakan kebaya. Di tempat inilah para santri makan tiga kali sehari. Menurut Khoiri (19 th) yang sudah 4 tahun mondok, harga makan di dalam pondok lebih murah dibanding warung di luar pondok. “Makanya banyak santri yang langganan di sini,” lanjutnya.

Sekitar jam 14.00 Wib santri kembali masuk ruang kelas melanjutkan pelajarannya sampai menjelang Ashar. Sistem pendidikan di pondok ini menggabungkan dua system, yakni sistem klasik (salafiyah) dan sistem modern. Pedoman yang digunakan adalah usul fiqih yang mengatakan, al-Muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhzdu bi al-jadid al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik). Sistem ini mulai diterapkan pada 1967, bertepatan dengan pencanangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum ini oleh pimpinan pondok saat itu, KH Abdul Wahab.

Perpaduan dua sistem pendidikan ini berjalan selaras. Pengelola juga bisa menerapkan sistem ini dalam delapan sub bidang kegiatan pendidikan yang terprogram. Pertama, Madrasah Diniyah, berisi program pendidikan modern, mulai tingkat SD/MI hingga Universitas/Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI), dengan memadukan ilmu umum dan agama. Kedua, takroruddurus, program bimbingan belajar dan konseling untuk santri. Ketiga, pengajian, program dan jadwal pengajian weton, sorogan, kilatan/Ramadhan, al-Qur’an, kuliah subuh, dan lainnya. Keempat, Corp Dakwah, berisi teknik-teknik dan latihan berdakwah serta pidato. Kelima, Jami’atul Qurro’ dan Shalawat, program latihan dan lomba seni baca al-Qur’an, shalawat. Keenam, Dzibadiyah dan Tahlil, program tahlil dan dzibaiyah, khotmil Qur’an, pembicara pada berbagai forum, dan lainnya. Ketujuh, Bahtsul Masail, kegiatan bahtsul kutub, bahtsul masail wustha, menghadiri undangan. Kedelapan, Forum Kajian Islam (FKI), seminar, sarasehan, diskusi, dan menghadiri undangan.

Ponpes Bahrul Ulum juga sudah mengembangkan belasan lembaga pendidikan modern dari SD/MI hingga Perguruan Tinggi. Di antaranya, Madrasah Ibtidaiyah Bahrul ‘Ulum (MI-BU), MI Mualimin, MI Mualimat, Madrasah I’dadiyah, Madrasah al-Qur’an, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), MTs Bahrul ‘Ulum, SMP Bahrul ’ulum, Madrasah Aliyah Negeri (MAN), MAN Bahrul ‘Ulum, Madrasah Aliyah Keagamaan, SMU Bahrul ‘Ulum, SMK Bahrul ‘Ulum, Akademi Perawat Bahrul ‘Ulum, Sekolah Tinggi Agama Islam Bahrul ‘Ulum (STAI-BU), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bahrul ‘Ulum (STIE-BU), dan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Bahrul ‘Ulum (STIBA-BU).

Tapi, ciri utama sebagai pondok salaf tetap dipertahankan, dengan tetap mengajarkan kitab-kitab klasik. Sekretaris Umum Dewan Pengasuh Dr KH M Hasib Wahab Chasbullah menuturkan, pengajaran kitab kuning masih menjadi mata pelajaran utama dengan metoda soroban dan weton. Dengan metoda inilah santri mengkaji secara mendalam kitab-kitab warisan para mustahid untuk mempertahankan paham ulama salaf, safi’iyah dan hanafiyah. “Dengan metoda yang tepat dan ketat, diharapkan santri mampu menerapkan ketentuan fiqih, berijtihad dalam urusan tauhid, hukum, ekonomi, dan sosial-politik yang terus berkembang di masyarakat,” lanjut pewaris tertua pondok.

Menurut Kiai yang juga akrab dipanggil Gus Hasib ini, dengan mengkaji kitab klasik yang berusia lebih 200 tahun, santri diharapkan mampu berijtihad menghadapi kompleksitas persoalan umat. Sebab, dalam kitab-kitab klasik umumnya terdapat dua kajian. Pertama, untuk membahas kasus dalam masyarakat sesuai konteknya. Kedua, untuk membahas persoalan pokok dan prinsip yang tidak bisa diubah.

Selain itu, kata Gus Hasib, jika ada persoalan kemasyarakatan para santri bisa berpegang pada kaidah usul figih dan contoh kasus dalam menerapkan hukum Islam di tengah masyarakat. “Sehingga setiap menghadapi persoalan kemasyarakatan, insya Allah para santri bisa menyelesaikannya dengan berpedoman pada kitab klasik dan ijtihad ulama,” tandas Ketua Umum Forum Silaturrahim Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Indonesia (FOSUPPI) ini.

Tak berlebihan jika pengelola pondok mendambakan pesantrennya mampu menjadi Bahar, lautan dan ‘Ulum, ilmu pengetahuan. Maka sesuai namanya, pesantren yang berperan besar dalam pendirian NU hingga masa revolusi kemerdekaan melawan Belanda dan Jepang ini, sangat pantas menyandang nama Bahrul ‘Ulum. Yakni, lautan ilmu bagi kejayaan Islam, bangsa dan negara.  

Meski obsesi terkadang hanya asa, setidaknya hari esok mentari kan bersinar terang. Seperti sore ini, tanpa malu-malu matahari memancarkan sinar emas kekuningan setelah sepanjang hari berselimut awan. Seusai shalat Ashar, Sabili meninggalkan salah satu pesantren tertua di Pulau Jawa ini.

Riwayat Tambakberas

Pondok Pesantren yang berdiri sejak 176 tahun lalu ini, berawal dari perjalanan dakwah seorang ulama bernama Kiai Abdussalam. Kiai yang dikenal sebagai ‘pendekar’ ini mempunyai darah bangsawan Kerajaan Majapahit. Darah bangsawan ini mengalir dari Lembu Peteng Aqilah Brawijaya, raja terakhir Dinasti Majapahit.

Pada 1825, Kiai Abdussalam datang ke Dukuh Gedang, Desa Tambak Beras, yang saat itu masih hutan belukar. Saat itu Tambak Beras dikenal sebagai sarang penjahat, bromocorah, dan kaum abangan. Selama 13 tahun, Kiai Abdussalam membuka hutan, membangun perkampungan dengan mendirikan pesantren kecil lengkap dengan mushala dan tempat tinggal. Berkat keluasan ilmunya yang tak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga beladiri dan meramu obat tradisional, pesantrennya cepat dikenal masyarakat. Warga menyebut pesantrennya dengan nama Pondok Tambak Beras.

Kyai Abdussalam menikahi putri dari Kasultanan Demak bernama Muslimah dan dikaruniai dua putri, Layinnah dan Fatimah. Kedua putrinya ini dinikahkan dengan santrinya sendiri. Layinnah dengan Kiai Usman, sedangkan  Fatimah dengan Kiai Said. Usman ditempatkan di pondok sebelah timur untuk mengembangkan thariqat. Sedangkan Said ditempatkan di pondok sebelah barat untuk mengembangkan syari’ah.

Perkawinan Kiai Usman dengan Layinnah menghasilkan putri bernama Winih, yang dikawinkan dengan santrinya bernama Asy’ari. Perkawinan Asy’ari dengan Winih ini menghasilkan bayi bernama Hasyim yang dikemudian hari dikenal dengan nama KH Hasyim Asy’ari, pendiri Ponpes Tebu Ireng. Tak heran, jika hubungan antara Ponpes Tambakberas dengan Ponpes Tebu Ireng ibarat kakek dengan cucunya. Sedangkan, perkawinan Kyai Said dengan Fatimah melahirkan bayi bernama Chasbullah.

Setelah Kiai Said dan Kiai Usman wafat, pondok yang tadinya terpisah, pengelolaannya disatukan di bawah pimpinan Kiai Chasbullah. Dari perkawinannya dengan Latifah, Kiai Chasbullah memperoleh enam putra, yakni KH Abdul Wahab, Kiai Abdul Hamid, Nyai Hadijah, Kyai Abdurrahim, Nyai Fatimah, dan Sholihah. Begitu KH Chasbullah wafat, pesantren dipimpin putra tertuanya, KH Abdul Wahab yang didampingi adik-adiknya, yakni KH Hamid dan KH A Rahim.

Dengan wafatnya KH A Rahim tahun 1943 dan KH A Hamid tahun 1956, untuk memimpin pondok KH Abdul Wahab didampingi keponakannya, KH A Fattah Hasyim. Meski disibukkan mengurus NU, pondok tetap dipimpinnya secara langsung. Tahun 1967 KH Abdul Wahab mencanangkan Ponpes Tambakberas dengan nama baru Ponpes Bahrul Ulum dengan tujuan menjaga kelestarian pesantren dan menghindarkan kepemilikan individual.

Setelah KH Abdul Wahab wafat tahun 1971, pesantren dipimpin KH A Fattah Hasyim hingga 1977. Setelah itu, pimpinan pesantren dilimpahkan pada KH M Najib Wahab hingga tahun 1987. Dalam kepemimpinannya, Bahrul Ulum mengalami perkembangan pesat dengan berdirinya Institut Agama Islam, SMU/Aliyah, dan SMP/Tsanawiyah. Setelah KH M Najib Wahab wafat tahun 1987, pesantren dikelola oleh Dewan Pengasuh Pondok yang dipimpin KH M Sholeh Abdul Hamid, hingga sekarang.

Dwi Hardianto

Publications: SABILI No 23 TH VIII 25 April 2001


Dwi Hardianto S Sos

Writer and Freelance Editor

Email: dwioke01@yahoo.com, dwi_h22@yahoo.co.id https://dwihardianto01.wordpress.com/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: