Beranda > Islamic Movement > Pesantren Darul Ulum, Mencetak Kader Tangguh dan Istiqamah

Pesantren Darul Ulum, Mencetak Kader Tangguh dan Istiqamah

Dengan memadukan sistem shalaf dan modern, pesantren ini berobsesi menghasilkan kader Muslim sejati dan istiqamah dalam bersikap.

Oleh Dwi Hardianto

Pagi baru saja menyingsing. Kereta Api Jayabaya Selatan yang membawa Sabili juga baru tiba di Stasiun Jombang, Jawa Timur. Dilanjutkan dengan naik becak, Sabili pun sampai di Pondok Pesantren Darul Ulum. Pesantren yang berada di Desa Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang ini, letaknya sekitar 4 km arah timur Stasiun Kereta Api Jombang.

Pesantren ini berawal dari pengajian al-Qur’an yang diselenggarakan KH Tamim Irsyad pada 1885. KH Tamim yang berasal dari Desa Pareng, Bangkalan, Madura adalah alumni Pesantren Bangkalan asuhan KH Cholil. Saat KH Tamim merantau ke Jawa, ia mendatangi sebuah kampung yang warganya banyak berbuat kemaksiatan. Dengan keiklasannya, KH Tamim mengadakan pengajian al-Qur’an di kampung itu. Lambat laun pengajiannya dikenal sebagai Pesantren Darul Ulum.

Pengasuh pesantren saat ini, KH As’ad Umar menyatakan pesantrennya sebagai pesantren shalaf, yang memadukan sistem pendidikan shalaf dengan modern. “Dengan system ini, para santri memperoleh penguasaan ilmu secara menyeluruh antara ilmu agama dengan bidang tertentu dari ilmu pengetahuan umum yang diminati,” jelasnya.

KH As’ad mengatakan, Pesantren Darul Ulum memiliki tiga tujuan. Pertama, membentuk kader Muslim sejati, aktif menjalankan ajaran Islam, dan konsekuen terhadap kesaksiannya. Kedua, menempatkan ilmu pengetahuan sebagai penopang agama dan negara. Ketiga, membentuk manusia yang selalu akrab dan mencintai Allah SWT, menyadarkan manusia bahwa hanya petunjuk Allah saja yang bisa menciptakan kebaikan.

Kurikulum yang diterapkan merupakan perpaduan antara kurikulum shalaf dan formal (klasikal). Beberapa materi dalam sistem shalaf adalah: Pertama, pengajian berbagai kitab tafsir, hadist, alat, fiqih, akhlak, dan kitab lain yang dikaji khusus oleh kiai dan santri senior. Kedua, hafalan al-Qur’an untuk Madrasah Takhasus al-Qur’an, mengkaji dan tafsir al-Qur’an di masjid setiap ba’da Subuh, Asar, Maghrib, dan di kelas tiap jam ke I dan II. Ketiga, Muhadharah (penampilan dakwah), seperti leadership, baiyah, tahlil, organisasi, dan olah raga. Keempat, ketrampilan, seperti menjahit, bahasa asing, keputrian, drum band, kepanduan, komputer, dan manajemen.

Sedangkan sistem formal (klasikal), meliputi: Tingkat Dasar; Madrasah Ibtidaiyah Negeri Darul Ulum (MIN-DU). Tingkat Menengah Pertama; Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN-DU), MTs Program Khusus DU, dan SMP-DU I sampai IV. Tingkat Menengah Umum, SMU-DU I sampai IV, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Rejoso, Madrasah Aliyah Kegamaan DU, dan Sekolah Takhassus al-Qur’an DU.

Selain itu, ada juga Tingkat Menengah Umum Kejuruan; SMEA-DU (SMK DU I) dan STM DU (SMK DU II). Program Unggulan Darul Ulum; SMP Negeri 3-DU, SMU Unggulan DU-BPPT, dan SMK (STM) Unggulan DU-Telkom. Tingkat Perguruan Tinggi; Akper-DU, STIBA-DU (Bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, dan Arab), STIK (Tarbiyah, Syariah, dan Dakwah), Politeknik DIII DU-ITS (Elektro,  Informatika, dan Telekomonikasi), dan Universitas Darul Ulum dengan beberapa fakultas dan jurusan.

Dengan banyaknya lembaga pendidikan yang dikelolanya, Pesantren Darul Ulum saat ini menempati lahan seluas 21,8 Ha. Hampir semua lembaga pendidikan ini terkonsentrasi di satu wilayah secara terpadu. Kecuali Universitas Darul Ulum yang terpisah dan menempati lokasi strategis di pusat kota Jombang seluas 24 Ha.

Di samping sarana gedung untuk belajar mengajar sebanyak 100 lokal, juga memiliki 34 gedung asrama putra dan putri, poliklinik, 4 ruang serbaguna, 2 gedung ketrampilan, masjid, 8 mushalah, 2 kantor pusat, 12 kantor unit, lapangan sepakbola, 6 lapangan bulutangkis, 8 lapangan tenis meja, 2 lapangan basket dan tenis, 3 unit laboraturium (Fisika, Kimia, dan Biologi), laboraturium bahasa, laboraturium komputer, BRI, BNI’46, dan Bank Jatim, pusat koperasi dan usaha pondok, wartel, dan 2 kantin.

Untuk menghasilkan autput santri yang berkualitas, input santri yang unggul dan pilihan juga menjadi dasarnya. Maka jangan kecewa, jika Anda atau putra-putri Anda tidak mencapai NEM minimal 40, jangan coba-coba mendaftar di pesantren ini, karena pasti gugur syarat administrasi. Selain itu, calon santri masih harus menjalani tes masuk dengan materi, agama Islam, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Hanya santri yang lulus tes masuk inilah yang akan diterima.

Setelah diterima, santri harus konsekuen menjalani kehidupan pondok dan sekolah yang ketat. Antara jam 07.00 sampai 16.00 Wib digunakan untuk sekolah. Kecuali yang kuliah, jadwal disesuaikan dengan sistem SKS pada umumnya. Di luar jam itu, terutama ba’da Maghrib sampai jam 10.00 Wib, ba’da Subuh hingga jam 06.00 Wib, dan ba’da Ashar hingga menjelang Maghrib, digunakan untuk belajar sistem pondok shalaf.

Jadi, praktis sebagian besar waktu santri untuk belajar. Tak berlebihan jika kita berharap akan lahir generasi santri yang tangguh dan istiqamah dalam bersikap. Semoga.

Publications: SABILI No 3 TH IX 1 Agustus 2001

Dwi Hardianto, S.Sos

Writer and Freelance Editor

Email: dwioke01@yahoo.com, dwi_h22@yahoo.co.id https://dwihardianto01.wordpress.com/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: