Beranda > Islamic Movement > Semalam di Tebuireng

Semalam di Tebuireng

Tebuireng memang melegenda. Disaat pergeseran nilai menjadi momok lembaga-lembaga Islam. Pesantren Tebuireng tetap komit mencetak kader tafaqquh fii ad-diin.

Oleh: Dwi Hardianto

Sore itu, hujan lebat mengguyur kota Jombang. Angkutan pedesaan yang membawa Sabili menuju Pesantren Tebuireng, tak kuat menahan derasnya air hujan. Dari jendela yang sebagian sudah keropos, air merembes ke dalam mobil. Akibatnya, sebagian penumpang harus menepi, berjejal, ke sisi yang aman dari rembesan. Alhamdulillah, memasuki Kelurahan Cukir Kecamatan Diwek, yang juga lokasi Pesantren Tebuireng, hujan berhenti.

Dari kejauhan terlihat cerobong asap bekas pabrik gula Cukir berwarna kehitaman. Berseberangan dengan pabrik gula, yang dibangun pada masa kolonial Belanda inilah letak Pesantren Tebuireng. Tepatnya berada di tepi jalan raya Jombang–Pare, sekitar 8 Km selatan kota Jombang, Jawa Timur.

Saat Sabili turun dari mobil tua itu, azan Ashar menggema dari dalam komplek pesantren. Setelah meminta izin dan mengisi buku tamu, Sabili memasuki pesantren. Di dalam masjid yang berada di tengah-tengah kawasan pesantren, para santri duduk bersila. Mereka melantunkan shalawat dan asma Allah untuk menunggu imam. Sabili pun bergabung dengan para jamaah.

Usai shalat, Sabili menemui protokol pesantren, Rusman Gunawan (21 th), untuk meminta izin bertemu pimpinan pesantren KH M Yusuf Hasyim. Rusman yang sudah 3 tahun mondok adalah alumnus SMU PGRI Cibinong, Kabupaten Bogor. Rusman juga kuliah di Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Istitut Keislaman Hasyim Asy’ari. Menurut Rusman, kiai bisa ditemui ba’da shalat Maghrib. “Kiai ingin istirahat dulu, insya Allah ba’da Maghrib bisa ditemui.” katanya meyakinkan.

Sambil menunggu Maghrib, Sabili mengitari komplek pesantren. Sore seperti ini, saatnya acara bebas bagi santri. Aktivitas santri pun bermacam-macam, ada yang mandi, mencuci pakaian, jalan-jalan di sekitar pesantren, atau olah raga di halaman asrama. Di dalam masjid, ada juga santri yang tidur-tiduran, membaca atau menghafal al-Qur’an, mempelajari kitab dan lainnya. Uniknya, sebagian santri menghafal al-Qur’an di serambi belakang masjid yang  menghadap makam pendiri pesantren–yang juga pendiri NU–KH M Hasyim Asy’ari.

Menurut Rusman, santri senang membaca dan menghafal al-Qur’an di serambi belakang masjid karena tempatnya tenang, adem, dan sejuk, sehingga memudahkan saat menghafal. Ketika ditanyakan pada Kiai Yusuf Hasyim, yang menerima Sabili ba’da shalat Maghrib, paman Gus Dur ini memberi alasan filosofis. Menurutnya, kebiasaan ini awalnya berlangsung tanpa sengaja. Beberapa bulan setelah meninggalnya Kiai Hasyim Asy’ari, para santri tiba-tiba banyak yang membaca atau menghafal al-Qur’an di tempat itu dengan kesadaran sendiri.

Kiai melanjutkan, ketika Kiai Hasyim Asy’ari meninggal pada 25 Juli 1947, seusai pemakaman hingga satu bulan sesudahnya, di pesantren ini tidak ada proses apapun, tidak ada tahlilan–tradisi yang biasa dilakukan kaum Nahdliyin saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia–atau pengajian. Baru setelah para santri melakukannya dengan spontan, pengelola pesantren tersadar. ”Kebiasaan ini adalah metoda untuk mempertahankan ideologi, cita-cita, dan ajaran KH Hasyim As’ari agar meresap dalam sanubari santri,” tegasnya.

Apa tak terjebak perilaku syirik? Menurut Kiai Yusuf Hasim, orang boleh saja menganggap demikian, tapi kami tidak bermaksud mengkultuskan apalagi menyekutukan Allah. Tujuan kami semata-mata untuk mendekatkan para santri kepada ideologi dan cita-cita almarhum. “Contoh, cita-cita Bung Karno itu apa? Susah kita sekarang mengingatnya. Apalagi Bung Hatta, orang semakin tidak tahu. Mungkin dalam satu generasi lagi masyarakat kita tidak tahu Bung Hatta itu siapa,” lanjutnya memberi alasan.

Terkait ideologi dan cita-cita pendiri pesantren ini, Kiai Yusuf Hasyim mempunyai obsesi ke depan dalam mengembangkan pesantrennya. Pesantren yang awalnya sebagai lembaga tafaqquh fii ad-diin (lembaga pendidikan khusus yang menyiapkan generasi ulama), dalam sepuluh tahun terakhir terasa kian menyimpang dari cita-cita awal.

Menurutnya, dulu orang tua mengirim anaknya ke Tebuireng, termotifasi oleh filosofi untuk mondok sambil sekolah atau masuk madrasah. Tapi sekarang, seiring makin kuatnya madrasah dan sekolah, terjadi pergeseran filosofi. Sekolah dulu atau ke madrasah dulu sambil mondok atau sambil ngaji. “Akibatnya, saat ini terjadi keseimbangan yang tak sehat dalam penguasaan ilmu umum dengan ilmu agama”, lanjutnya prihatin.

Untuk mengantisipasinya, secara bertahap pengelola Tebuireng dalam jangka panjang merencanakan membangun komplek madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi lengkap dengan asramanya. Pembangunan ini rencananya dilakukan di luar areal pondok saat ini. Pengelola telah mempunyai lahan seluas 9 Ha. Letaknya di sebelah barat berdampingan dengan pondok lama.

Sebenarnya, di lahan baru, saat ini telah berdiri gedung sekolah mulai Madrasah/SD, Tsanawiyah/SMP, Aliyah/SMU/SMK, Perguruan Tinggi (Institut Keislaman Hasyim Asy’ari), dan sebuah Masjid Agung “Hasyim Asy’ari.” Rencananya, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi yang telah ada akan dikembangkan lagi. Disamping itu, juga dibangun asrama untuk menampung santri, pelajar sekolah/madrasah, dan mahasiswa. Jadi sekolah dan asrama dikonsentrasikan di luar pondok.

Sedangkan pondok lama, dikembalikan seperti dulu sebagai pesantren salafiyah safi’iyah. Pesantren ini menganut dan mengembangkan suatu ajaran agama Al-Muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhzdu bi al-jadid al-ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik), yang menitikberatkan kajian kitab-kitab shalaf. Ini dimaksudkan untuk menjamin kesinambungan ajaran agama dari generasi ke generasi. Sehingga tujuan menciptakan lembaga tafaqquh fid din bisa terlaksana.

Kemudian, bentuk fisik pondok lama juga tidak diubah. Ini semua merupakan hasil kajian dan pengamatan yang telah dilakukan beberapa tahun terakhir. Hasil pengkajiannya menyimpulkan, pondok saat ini sudah tidak muat lagi menampung seluruh santri. Padahal, madrasah dan sekolah sudah dipindahkan ke areal baru, tapi belum cukup juga menampung seluruh santri.

”Sayangnya, rencana ini masih wacana. Masih memerlukan pembahasan mendalam, membuat perencanaan, pembiayaan, dan seterusnya. Maketnya sudah ada, tapi belum ditetapkan sebagai rencana yang matang dan siap untuk pembangunan,” kata Kiai Yusuf Hasyim. Selain itu, lanjutnya, pihaknya masih menghadapi kendala dana. Inilah PR besar yang harus diselesaikan keluarga besar Tebuireng, termasuk kaum Muslimin lainnya.

Adzan Isya menggema di sekitar pesantren. Di luar, gemericik hujan terdengar lagi. Tapi para santri tetap bersemangat ‘ngaji,’ seusai shalat Isya. ‘Ngaji’-nya dilakukan dengan sistem bandongan weton dan sorogan. Dalam sistem bandongan weton, santri diklasifikasi menurut kelas masing-masing. Kemudian sang kiai membacakan teks kitab disertai ulasan tentang arti dan maknanya dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Jadi, santri berada dalam halaqah bukan madrasi (klasikal).

Ada juga sekelompok santri yang menunggu giliran ‘ngaji’ dengan sistem sorogan. Dalam sistem ini, santri secara individual menghadap kiai, membawa kitab sesuai tingkatnya. Selanjutnya, santri itu membaca, menerjemahkan, mengulas, dan memberi makna dari setiap teks dihadapan kiai. Sedangkan, sang kiai mengamati dengan cermat mutu bacaan dan makna yang diulas santrinya. Kiai akan memberi petunjuk secara langsung ketika ada kesalahan. Dengan cara ini, kiai menjadi mengetahui titik lemah dan keunggulan setiap santrinya. Sehingga lebih mudah memberikan bimbingan.

‘Ngaji’ seperti ini berlangsung sampai sekitar jam 22.00 WIb. Setelah itu, para santri istirahat. Meski mereka memiliki asrama masing-masing, tapi serambi depan masjid tetap penuh oleh santri yang tidur.

Hujan belum juga reda. Gemericik hujan kian terasa cepat ritmenya. Jam menunjuk angka 03.00 Wib dinihari. Spontan santri senior membangunkan santri lainnya, mengajak shalat malam. Hingga menjelang subuh, para santri menjalankan shalat penuh khusu’ dan tawadhu. Sebagian ada yang menangis penuh pasrah akan kilaf dan dosa di hadapan Allah Yang Kuasa.

Seusai shalat Subuh, hujan reda. Semburat sinar kekuningan menyembul di ujung timur menandai fajar telah mengintip. Para santri masih ditempatnya, mendengarkan kuliah subuh. Setelah itu, pondok disibukan oleh riuh canda tawa para santri yang antri menunggu giliran mandi. Setelah semuanya usai, tiba-tiba pondok menjadi hening dan senyap, padahal jam baru menunjuk angka 06.30 Wib. Hanya asrama kosong berhias jemuran pakaian para santri yang mulai beraktivitas di sekolah/madrasah.

Seiring keheningan nan damai ini, Sabili meninggalkan Tebuireng. Sepanjang jalan, Sabili merenung, berbeda dengan keponakannya, KH Abdurrahman Wahid, yang ‘asyik’ bermain dengan riuhnya percaturan politik, Kiai Yusuf Hasyim memilih istiqomah mengurus dan membesarkan pesantren dengan prinsip tegas. Tebuireng adalah bagian dari warga negara bukan pemerintah.

Dakwah Islam di Keboireng

Pesantren Tebuireng berasal awalnya hanya sebuah pondok gedek (anyaman bambu) seluas 6 x 8 meter bekas tempat pelacuran di Desa Keboireng.

Oleh Dwi Hardianto

Seorang warga dusun memelihara kerbau bule. Suatu hari kerbaunya menghilang. Tapi saat senja menjelang, kerbau itu ditemukan sedang berendam di rawa-rawa. Badannya penuh lintah berwarna hitam kelam. Sang pemilik berteriak, “Keboireng!” Akhirnya, desa ini disebut “Keboireng” (kerbau hitam). Desa ini dikenal sebagai sarang perjudian, perampokan, pencurian, pelacuran, minuman keras, dan semua perilaku kejahatan.

Di Desa Keboireng inilah, 102 tahun lalu, tepatnya 26 Robi’ul Awal 1317 H atau 3 Agustus 1899 M, KH M Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren yang diberi nama ”Tebuireng”. Dalam mendirikan pesantren ini, Kiai Hasyim dibantu oleh 28 santri dari pesantren kakeknya, Kiai Ustman, di Dusun Gedang Kecamatan Tembelang, yang merupakan bagian dari Pesantren Tambakberas.

Awalnya, Pesantren Tebuireng hanya berupa bangunan kecil seluas 6 x 8 meter. Bangunan yang terbuat dari gedek (anyaman bambu) ini merupkan bekas tempat pelacuran yang dibeli dari seorang dalang wayang kulit. Bangunan itu disekat menjadi dua ruangan, bagian depan untuk mushalah dan tempat ngaji, sedang bagian belakang untuk tempat tinggal kiai dan istrinya, Nyai Khodijah.

Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir 26 Dzulqa’idah 1287 H atau 14 Februari 1871 ini adalah putra pasangan Kiai Asy’ari dan Halimah. Sedang Halimah adalah cucu Kiai Abdussalam, pendiri Pesantren Tambakberas. Tak heran, antara Tebuireng dengan Tambakberas terjalin hubungan yang sangat erat, ibarat cucu dengan kakeknya.

Perjalanan dakwah Kiai Hasyim, penuh tantangan. Sejak mendirikan pesantren hingga tiga tahun sesudahnya, hampir tiap malam, kiai selalu mendapat teror fisik, berupa ancaman hingga sabetan clurit dan pedang dari para penjahat. Bahkan, para penjahat itu menantang duel satu lawan satu dengan kiai. Akhirnya, dengan bantuan lima kiai dari Cirebon yang menguasai bela diri, Kiai Hasyim berhasil membasmi kejahatan dan kemaksiatan di desa ini.

Selanjutnya, kehidupan masyarakat pun mulai mendapat pencerahan ilmu agama. Pesantren Tebuireng juga kian mendapat tempat di hati masyarakat. Dalam usia lima tahun, sudah mempunyai 200 santri yang datang dari penjuru tanah air dan negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Bahkan, pada usia kesepuluh, santrinya  mencapai 2.000 orang.

Melihat pesatnya perkembangan pesantren, Belanda sangat khawatir akan memicu perjuangan melawan pemerintah. Untuk meredam perjuangan, pada 26 Robiul Awal 1324 atau 6 Februari 1906 Pemerintahan Hindia Belanda mengakui secara resmi keberadaan Pesantren Tebuireng. Tapi taktik kooperatif ini tak menyurutkan perjuangan kiai dan santrinya. Pesantren Tebuireng terus mengobarkan semangat perjuangan merebut kemerdekaan, bahkan mengeluarkan fatwa haram memakai dasi bagi umat Islam. Pada saat itu, Kiai Hasyim mengatakan, memakai dasi menyamai perilaku penjajah kafir.

Selama kepemimpinan Hasyim Asy’ari, Pesantren Tebuireng mengalami masa keemasannya. Berbagai metode pendidikan terus dikembangkannya pada saat itu. Hingga akhir hayatnya pada 25 Juli 1947, ribuan alumnus Tebuireng telah tersebar di seluruh Indonesia, membimbing masyarakat dan membangun peradaban demi tegaknya panji-panji Islam.

Publications: SABILI No 24 TH VIII 23 Mei 2001

Dwi Hardianto, S.Sos

Writer and Freelance Editor

Email: dwioke01@yahoo.com, dwi_h22@yahoo.co.id https://dwihardianto01.wordpress.com/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: