Beranda > Islamic Economics > Asongan KRL, Termarginalkan Tapi Berpotensi Besar

Asongan KRL, Termarginalkan Tapi Berpotensi Besar

Keberadaannya terkadang menjengkelkan saat Anda naik Kereta Api Listrik (KRL) Jabodetabek kelas ekonomi. Anda boleh sebel, tapi yang jelas para pengasong itu menikmati keuntungan jutaan rupiah tiap bulannya.

Oleh Dwi Hardianto

Adzan Subuh baru saja usai. Deru mesin KRL Jabodetabek di Stasiun Bogor mulai terdengar menanti pemberangkatan pertama, sekitar jam 04.45 Wib. Di sudut stasiun, beberapa pedagang asongan sibuk merapihkan dagangannya. Mereka bersiap memulai aktivitasnya. Pagi-pagi begini, yang mereka jual antara lain lontong, tahu, bacan, aneka gorengan, minuman kemasan, dan lainnya. Meski harus berjejal dengan penumpang sambil mengangkat ancak (tempat dagangan), para pengasong menawarkan daganganya dari gerbong satu ke gerbong lain atau mangkal di pojok-pojok stasiun.

Tanpa mengenal lelah mereka menjajakan dagangan hingga seluruh celah gerbong terisi penuh oleh penumpang. Lalu, mereka pun pindah ke KRL lain yang datang dari arah sebaliknya ketika KRL pertama telah padat dengan penumpang. Demikian seterusnya hingga seluruh dagangannya habis terjual. Untuk menghabiskan seluruh dagangan, terkadang mereka harus berjuang hingga jadwal KRL terakhir sekitar jam 22.00 Wib.

Idris (19 th) yang hampir dua tahun berjualan tahu di KRL menuturkan, dalam sehari rata-rata ia bisa menjual 4 ancak (1 ancak berisi 100 potong tahu). Berarti dalam sehari, Idris bisa menjual 400 potong. Waktu yang dibutuhkan tergantung pada tingkat pembelian. “Kalau sedang ramai pembeli, sekitar jam 16.00 sore dagangan sudah habis. Ini biasanya pada hari Ahad atau hari libur. Sedangkan hari-hari biasa, rata-rata saya pulang jam 21.00 malam,” ujarnya.

Orang yang melakoni usaha seperti Idrus cukup banyak. Berdasarkan catatan PT KAI, sepanjang lintasan KRL Bogor–Jakarta Kota tercatat lebih dari 50 orang penjual tahu. Jika setiap orang rata-rata menjual 400 potong seperti yang dialami Idris, berarti dalam satu hari bisa terjual sebanyak 20.000 potong. Harga satu potong rata-rata Rp 500, sehingga total omset perdagangan tahu KRL mencapai Rp 10 juta/hari.

Keutungan yang diperoleh pengasong cukup besar. Pasalnya, setiap pengasong hanya menyetor Rp 25.000/ancak pada produsen. Jadi dari setiap ancak yang berisi 100 potong tahu, pengasong memperoleh laba Rp 25.000. Jika dalam sehari rata-rata bisa menjual 4 ancak, laba yang diperolehnya menjadi Rp 100.000. Berarti dalam sebulan, bisa mengantongi keuntungan Rp 3.000.000. Ini belum termasuk laba pada hari Ahad dan hari libur yang penjualannya naik tajam. Bahkan, ada juga pengasong yang bisa menjual 12 ancak per hari.

Bagaimana dengan pengasong lainnya? Dari pengamatan Sabili, omset pengasong lainnya juga tak kalah. Misalnya, pada jenis minuman kemasan seperti, teh botol, teh kita, sprite, fanta, coca-cola, pepsi, dan marinda. Samingun (21 th), pengasong asal Banjarnegara, Jateng, yang sudah setahun menjalani usaha ini mengaku, setiap hari membawa 3 krak (satu krak berisi 24 botol) dan rata-rata bisa terjual habis.

Sistem yang diterapkan agen minuman tak jauh rbeda dengan produsen tahu. Dari setiap botol yang terjual, pengasong harus membayar Rp 1000 kepada agen. Kemudian pengasong memasang harga Rp 2000/botol. Berarti dalam sehari, Samingun bisa membawa pulang uang Rp 72.000. Dalam satu bulan laba yang diperolehnya menjadi Rp 2.160.000. Perhitungan ini akan melonjak jika dimasukkan keuntungan pada hari libur dan ahad yang rata-rata bisa menjual 4–5 krak sehari.

Dari data PT KAI, jumlah pengasong minuman ringan di sepanjang jalur KRL Bogor–Jakarta Kota lebih dari 70 orang. Jika mereka rata-rata setiap hari bisa menjual 3 krak (72 botol), maka omset perdagangan minuman kemasan di KRL mencapai Rp 10.080.000 per hari.

Anda belum percaya dengan kalkulasi ini? Coba kita simak penuturan  Savira (18 th), pedagang asongan asesoris yang alumnus sebuah SMP swasta di Pasar Minggu. Menurutnya, dalam sehari rata-rata ia bisa menjual asesoris sebanyak 50 item. Harga per item rata-rata Rp 2000. Dari jumlah barang yang laku, Savira berkewajiban menyetor pada agen sebesar Rp 1000/item. Maka dalam sehari Savira bisa mengantongi uang Rp 50.000. Berarti dalam satu bulan bisa memperoleh keuntungan sebesar Rp 1.500.000.

Dari data PT KAI, jumlah pengasong asesoris sepanjang KRL Bogor–Jakarta Kota sekitar 50 orang. Jika masing-masing pengasong memperoleh pendapatan yang sama dengan Savira, maka omset perdagangannya mencapai Rp 5.000.000 per hari.

Melihat keuntungan yang lumayan ini, tak heran jika tiap hari jumlah pengasong terus bertambah. Dalam satu rangkaian KRL bermunculan puluhan pengasong dengan beragam barang dagangan. Akibatnya, kenyamanan penumpang pun terganggu. Pertanyaannya, apa ”profesi” ini mampu meningkatkan taraf kehidupan para pengasong?

Lantas, apa yang dilakukan instansi terkait? Kahumasda I PT Kereta Api Jakarta Drs Zainal Abidin mengatakan, menurut ketentuan perusahaan, kios-kios di stasiun memang diperbolehkan dengan jumlah proporsional. Tapi jika mereka sudah liar menjadi pedagang asongan sebenarnya dilarang. “Inginnya kami, asongan itu nggak ada. Jadi kami nggak perlu membina. Tapi untuk membuat mereka nggak ada, kita nggak bisa bekerja sendiri. Nanti mereka mau disalurkan ke mana? Jadi perlu ada koordinasi dengan intansi lain, terutama Depnaker dan Pemda setempat,” ujarnya.

Terkait pembinaan, ini memang menjadi tanggungjawab lintas instansi. Pertanyaannya, apakah mereka sudah melakukan? Bagaimana dengan kita? Jangan sampai keterpurukan ekonomi mereka menjadi ladang subur penyemaian berbagai bibit kemaksiatan, kejahatan dan pemurtadan. Pasalnya, Ketua Sahabat Anak Peduli (SAP), Hazrat Avisenna, yang juga mahasiswa FISIP UI menengarai, ada sebuah lembaga yang dikelola kalangan tertentu bertujuan menyebarkan agama tertentu pada warga yang sudah beragama. Lembaga ini bergerak di kampung Lio, Depok Baru, yang dikenal sebagai kampung basisnya pedagang asongan KRL. Apa kita akan diam saja?

Publications: SABILI No 26 TH VIII 20 Juni 2001

Dwi Hardianto, S.Sos

Freelance to: Writer, Editor, Campaign Strategic, Public Relations, Publishing, Advertising, Design, Photography, and Event Organizer

Email: dwioke01@yahoo.com, dwi_h22@yahoo.co.id

https://dwihardianto01.wordpress.com/

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: